Blog  

Mahasiswa STIK-PTIK Angkatan 83 Ulurkan Tangan di Tengah Luka Bencana, Kapolres Bener Meriah: Ini Wujud Nyata Pengabdian Polri untuk Masyarakat

BENER MERIAH – Di tengah sisa-sisa lumpur yang belum sepenuhnya kering dan duka yang masih terasa di wajah para pengungsi, secercah harapan hadir di Pengungsian Jamur Ujung, Sabtu (14/2/2026). Sebanyak 21 Mahasiswa STIK-PTIK Angkatan 83 turun langsung menyerahkan bantuan sosial kepada warga terdampak banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bener Meriah.

 

Bantuan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan sejumlah bahan pangan lainnya dibagikan langsung kepada warga. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar sembako. Namun bagi para pengungsi yang kehilangan rumah, ladang, bahkan sumber penghidupan, bantuan itu adalah simbol bahwa mereka tidak sendiri.

 

Selama 20 hari ke depan, para mahasiswa dari STIK-PTIK Angkatan 83 akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat (Dianmas) di Bener Meriah. Kehadiran mereka bukan sekadar menjalankan program pendidikan, tetapi menjadi wujud nyata kepedulian dan empati Polri terhadap masyarakat yang tengah diuji bencana.

 

Kapolres Bener Meriah, AKBP Aris Cai Dwi Susanto, S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa kehadiran para mahasiswa tersebut adalah representasi hati dan nurani institusi Polri.

 

“Mahasiswa STIK-PTIK hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawa semangat kebersamaan dan kepedulian. Ini adalah bentuk pengabdian Polri kepada masyarakat, terutama saudara-saudara kita yang sedang menghadapi cobaan berat akibat bencana,” ujar Kapolres.

 

Menurutnya, pengabdian tidak berhenti pada pemberian bantuan semata. Para mahasiswa akan terus mendengarkan keluh kesah warga, membangun komunikasi, serta bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya pemulihan pascabencana.

 

Di antara tenda-tenda pengungsian, para mahasiswa terlihat berbaur tanpa sekat. Mereka menyapa anak-anak, berbincang dengan para orang tua, dan memastikan bantuan tersalurkan dengan tepat. Bagi mereka, ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan panggilan jiwa.

 

Bencana memang meninggalkan luka. Namun di Jamur Ujung, luka itu perlahan dijahit oleh kepedulian, oleh tangan-tangan yang tulus mengulurkan bantuan, dan oleh kehadiran aparat negara yang tidak berpaling saat rakyatnya membutuhkan.

 

Di tengah ujian alam yang berat, semangat pengabdian itu menjadi pengingat: Polri tidak hanya hadir saat keadaan aman, tetapi juga berdiri di barisan terdepan ketika masyarakatnya terjatuh.