KARANGASEM | 1fakta.com
Langit Desa Adat Saren, Desa Bhudakeling, seketika memerah saat bertepatan dengan hari Tilem Sasih Kedasa, ribuan krama memadati kawasan Jalan Raya Saren Kauh untuk menyaksikan sekaligus mengikuti Tradisi Ter-teran atau Perang Api, sebuah ritual sakral yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Puncak Usaba Dalem. Pada Kamis malam, (16/4/2026).
Tradisi yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga 18 April mendatang ini melibatkan ratusan warga yang terbagi dalam dua kelompok. Dengan bersenjatakan sabut kelapa yang membara, kedua kelompok saling berhadapan dan melempar api sebagai simbol pembersihan energi negatif (bhuta kala.
Sebanyak lima Banjar Adat, yakni Saren Anyar, Saren Kangin, Dukuh, Pesawan, dan Saren Kauh, tumpah ruah dalam ritual ini. Tercatat sekitar 1.400 pemedek hadir memenuhi area Pura Dalem hingga depan SD N 2 Bhudakeling, menciptakan suasana magis nan meriah yang juga menarik perhatian wisatawan dan penonton dari luar desa.
Guna memastikan kegiatan berjalan lancar, Polsek Bebandem mengerahkan personel gabungan bersama Pecalang Desa Adat. Kapolsek Bebandem, AKP I G.N.B. Suastwan, S.H., M.H., memimpin langsung jalannya pengamanan di lapangan.
”Kami mengedepankan pendekatan preventif. Fokus utama adalah memastikan jarak aman bagi penonton agar terhindar dari percikan bara api, serta menjaga emosi para peserta agar tetap dalam koridor tradisi dan tidak memicu konflik fisik,” ujar AKP Suastwan dalam laporannya.
Mengingat lokasi kegiatan menggunakan jalur utama Saren Kauh, pihak kepolisian memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan arus dari Utara di Simpang 3 Bhudakeling-Saren, Arus dari Selatan dialihkan di Simpang 3 Saren menuju jalur alternatif Jalan Banjar Dinas Jungsri.
Meski sempat terjadi kepadatan di jalur alternatif akibat volume kendaraan yang meningkat di ruas jalan pedesaan yang sempit, situasi secara umum terpantau tertib dan terkendali.
Hingga berakhirnya kegiatan hari pertama pada pukul 21.10 WITA, tidak ditemukan adanya insiden menonjol. Meski risiko luka bakar ringan selalu ada dalam tradisi ini, tim di lapangan telah bersiaga untuk memberikan penanganan medis cepat.
Tradisi Ter-teran akan kembali dilanjutkan esok hari dengan pengawalan serupa demi menjamin keamanan dan kenyamanan krama yang beribadah.
Sby

