Siborongborong – 1fakta.com
Setelah lebih dari satu dekade dilanda perpecahan, jemaat Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB) Aek Mabar akhirnya kembali bersatu. Momentum bersejarah ini ditandai dengan pelaksanaan ibadah perdamaian pada Minggu, 15 Maret 2026, yang berlangsung khidmat dan sarat makna.
Mengusung semangat “Letare” yang berarti bersukacita, ibadah tersebut menjadi simbol berakhirnya dualisme yang selama kurang lebih 15 tahun memecah jemaat akibat konflik internal di masa lalu.
Rekonsiliasi ini tidak terjadi secara instan. Terpilihnya Pimpinan Majelis Pusat GPKB periode 2026–2031 menjadi titik awal upaya penyatuan, yang kemudian dilanjutkan melalui pertemuan bersama guru huria, penatua, serta jemaat dari kedua kubu.
Kesepakatan untuk bersatu kembali akhirnya terwujud dalam ibadah perdamaian yang dipimpin oleh Pdt. JP Simanungkalit sebagai liturgis. Khotbah disampaikan oleh Pdt. Manahan Sy. Simanjuntak, sementara pelayanan Perjamuan Kudus dilayankan oleh Pdt. Jubel Lumbantoruan bersama Pdt. Rita Purba dan Pdt. Beresman Sianturi.
Suasana ibadah dipenuhi rasa haru dan sukacita. Jemaat yang sebelumnya terpisah kini kembali duduk bersama dalam satu persekutuan, menandai babak baru kehidupan bergereja yang lebih damai dan solid.
Komitmen “Marparange Songon Anak Hatiuron” ditegaskan sebagai landasan untuk menjaga persatuan, mempererat kebersamaan, serta memperkuat pelayanan gereja ke depan.
Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan keputusan sinode, termasuk kesiapan dua orang jemaat untuk mengabdi sebagai calon penatua, sebagai bagian dari penguatan struktur pelayanan gereja.
Kehadiran Kepala Desa Pohan Tonga, Walben Siahaan, turut menjadi simbol dukungan terhadap proses rekonsiliasi yang telah lama dinantikan ini.
Peristiwa ini menjadi harapan baru, tidak hanya bagi GPKB Aek Mabar, tetapi juga bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami dualisme, agar segera menempuh jalan damai demi persatuan dan pelayanan yang lebih baik.
(1F/Mukhtar.S.)

