Aktivis Muda Bireuen: Sebelum Bulan Puasa Pengungsi Masih Tidur Ditenda, Akan Geruduk Kantor Bupati Bireuen

Bireuen – 1fakta.com

Sampai sekarang ini para pengungsi korban banjir masih tinggal di bawah tenda , rumah tetangga, Meunasah . Bila terus menerus kondisi pengungsi seperti itu , kata Aktivis muda Bireuen, Iskandar yang akrab disapa Tuih akan geruduk Kantor Bupati Bireuen dan Pendopo Bupati Bireuen.

Minggu 1 Fevbruari 2026.

Sungguh sedih, menurutnya membiarkan masyarakat Bireuen yang ditimpa musibah banjir tanpa kepastian Huntap dan seakan akan masyarakat korban banjir menolak Huntara

Terkesan, kebijakan Bupati Bireuen membiarkan masyarakat korban banjir di bawah tenda atau barak.

Bila Bupati Bireuen belum bisa menyediakan Huntap dan Huntara untuk korban banjir, saya bersama masyarakat siap akan menggeruduk Kantor Bupati Bireuen dan Pendopo Bupati Bireuen dan mendirikan tenda.

Contohnya, padahal masyarakat dan perangkat Desa Alue Kuta Kecamatan Jangka tidak pernah menolak Huntara, mereka sudah mengajukan Huntara tersebut agar warga nya tidak lagi tinggal di tempat pengungsian, tetapi kenyataannya… bahkan saat Keuchik dipanggil oleh Bupati Bireuen di pendopo Bupati Bireuen bersama camat Jangka menjelaskan bahwa warganya tetap butuh Huntara.

Pada saat itu ada lembaga yang menawarkan akan membanggun Huntap di depan Bupati Bireuen, kadis terkait dan camat Jangka, namun hingga hari ini nihil.

Makanya setelah dari Pendopo Bupati Bireuen Keuchik Alue Kuta menyampaikan kepada warga nya. Namun sayangnya sampai sekarang ini Huntara dari Pemerintah Pusat di Desa Alue Kuta Hilang, sementara Huntap pun tidak ada kepastian hingga sampai sekarang warga terpaksa menumpang di Dayah setempat.

Seharus nya siapapun yang ingin membantu dan membangun Huntara untuk masyarakat Korban pasca banjir di terima saja, kenapa harus ditolak, jangan ada unsur politik dalam hal penanganan musibah itu, karena ini mengenai nasib korban pasca banjir yang semestinya di prioritaskan apalagi sebentar lagi bulan suci ramadhan.

“Yang aneh ben ajaibnya, setiap para Keuchik yang bersuara menerima Huntara mereka itu diduga di bungkam, ”
tutup Tu Ih Aktivis muda itu.(Abd-72)