Blog  

Nah Lho! : “Perusahaan Ibu” Ambruk, Pak Wakil Kini Pegang Setir

Nah Lho! : “Perusahaan Ibu” Ambruk, Pak Wakil Kini Pegang Setir

KAJEN Pekalongan Jateng: 1fakta.com Warta Desa – Kursi empuk Bupati Pekalongan akhirnya resmi berganti sopir. Setelah Fadia Arafiq terjaring OTT dan harus mencicipi dinginnya hotel prodeo KPK, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) gerak cepat. Per hari Kamis (5/3/2026), Wakil Bupati Sukirman resmi ditunjuk jadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati.

​Wamendagri Bima Arya Sugiarto mengirim pesan menohok: jadi kepala daerah itu pengabdian, Lur, bukan ajang cari makan, apalagi memperkaya tujuh turunan. Nah lho! Sindiran halus tapi telak ini seolah menampar drama “kerajaan bisnis” yang baru saja dibongkar penyidik Gedung Merah Putih.

​Modus “Perusahaan Ibu” yang Bikin Geleng Kepala
KPK buka-bukaan soal bagaimana PT RNB (Raja Nusantara Berjaya) alias “Perusahaan Ibu” ini beroperasi. Ternyata, baru setahun menjabat di periode pertama saja, sang Bupati sudah sibuk bangun “pabrik uang” bareng suami (Anggota DPR RI) dan anaknya (Anggota DPRD). Komplet sudah, satu keluarga punya jabatan, satu keluarga pula punya perusahaan yang hobi “makan” proyek pemkab.

​Caranya? Pakai jurus intervensi tingkat dewa. Para Kepala Dinas, Camat, sampai Direktur RSUD diduga dipaksa memenangkan PT RNB untuk urusan tenaga outsourcing.

​Main Curang: HPS “Bocor” Duluan

Yang bikin elus dada, prosedur pengadaan barang dan jasa cuma dianggap pajangan. Biar PT RNB menang mulus, perangkat daerah diminta setor Harga Perkiraan Sendiri (HPS) ke perusahaan tersebut di awal. Jadi, PT RNB tinggal menyesuaikan angka penawaran biar pas dan terlihat “profesional”.

​Padahal, banyak perusahaan lain yang berani kasih harga lebih murah. Tapi apa daya, kalau sudah urusan “Perusahaan Ibu”, siapa yang berani melawan? Akibatnya, uang rakyat berpotensi besar bocor jadi kerugian negara demi keuntungan pribadi sang beneficial owner.

​Tugas Berat Pak Plt

Kini, bola panas ada di tangan Sukirman. Tugasnya bukan cuma menjalankan roda pemerintahan, tapi juga bersih-bersih dari sisa-sisa intervensi yang mungkin masih nyangkut di laci-laci dinas.

Rakyat Pekalongan sekarang cuma bisa menonton: apakah setelah “Perusahaan Ibu” tumbang, birokrasi kita bakal beneran sehat, atau malah muncul “perusahaan keluarga” jilid berikutnya? Kita kawal terus. Nah Lho!

Editorial: Mujihartono1