Laka Lantas di Sulsel Turun 13 Persen Sepekan Operasi Pallawa 2026

Makassar, 1fakta.com – Sepekan pelaksanaan Operasi Keselamatan Pallawa 2026 yang digelar Polda Sulsel mulai 2 hingga 8 Februari menunjukkan tren positif. Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) tercatat turun 13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Data sementara H+7 mencatat 113 kejadian laka, menurun dari 130 kasus pada 2025. Penurunan juga terjadi pada jumlah korban dan kerugian material.

Sementara itu, korban meninggal dunia (MD) turun 33 persen, dari 15 orang menjadi 10 orang. Korban luka ringan (LR) berkurang 20 persen, dari 169 orang menjadi 135 orang. Sementara kerugian material menurun 35 persen, dari Rp171 juta menjadi Rp110,95 juta.

Dirlantas Polda Sulsel Kombes Pol Dr. Pria Budi SIK MH melalui Kasubdit Gakkum AKBP Dr. Amin Toha SH MH mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari strategi terintegrasi yang mengedepankan pendekatan preemtif dan preventif.

“Kesuksesan ini berpangkal pada lonjakan 100 persen kegiatan preemtif dan preventif yang mengubah perilaku berkendara masyarakat Sulsel secara masif,” ujar AKBP Amin Toha, Senin (09/02/2026).

Meski demikian, terdapat kenaikan tipis pada kategori korban luka berat (LB) sebesar 50 persen, dari 2 orang menjadi 3 orang. Namun, menurut Amin, kondisi tersebut masih dalam kategori terkendali.

Pada sektor preemtif, Satgas mencatat peningkatan signifikan di delapan indikator utama. Edukasi melalui media sosial dilakukan sebanyak 30.806 kali, disusul 2.907 kegiatan sosialisasi langsung ke masyarakat.

Selain itu, penyuluhan publik digelar 947 kali, program Police Go to School 390 kali, serta pembinaan sopir dan komunitas sebanyak 445 kali.

Penyebaran informasi terkait laka dan kemacetan juga dilakukan 4.206 kali guna memastikan masyarakat mendapatkan informasi secara real time.

“Pendekatan multi-media ini terbukti efektif, terutama di kalangan pelajar dan pengemudi profesional,” katanya.

Di sisi preventif, patroli dan penjagaan pada jam rawan meningkat hingga 16.721 kali atau naik 100 persen. Kehadiran personel di titik rawan tercatat 5.759 kali, menciptakan efek cegah dini di lapangan.

Pemeriksaan pengemudi secara acak dilakukan 663 kali, ramp check bus 694 kali, serta pengawasan kendaraan bermotor 534 kali untuk mendeteksi pelanggaran teknis sejak awal.

Pemetaan jalan berbahaya dilakukan 651 kali dan koordinasi lintas instansi 318 kali guna mengatasi persoalan infrastruktur.

Sementara itu, penegakan hukum berbasis teknologi mengalami lonjakan signifikan. Tilang elektronik atau ETLE naik drastis hingga 10.269 persen, dari 141 perkara menjadi 723 perkara. Teguran juga meningkat 10.763 persen, dari 94 menjadi 4.614.Sebaliknya, tilang konvensional justru turun tajam dari 499 menjadi 183 perkara.

“Pergeseran ke penegakan berbasis teknologi ini lebih efisien, menghindari konfrontasi langsung, dan fokus pada pelanggar serius. Kombinasi ETLE dan presensi personel menjadi formula efektif menekan laka 13 persen dan kerugian material 35 persen,” jelas Amin.

Polda Sulsel menargetkan momentum ini dapat terus dijaga hingga Operasi Ketupat mendatang, dengan sasaran utama menekan angka kecelakaan fatal hingga mendekati nol.

“Komitmen ini diperkuat dengan koordinasi lintas instansi dan optimalisasi teknologi ETLE ke depan,” pungkasnya.(niar ch)

Jangan copy berita ini!