Siborongborong – 1fakta.com
Ketua Yayasan Bisukma, Erikson Sianipar, melakukan kunjungan kepada para pelaku UMKM berbasis hasil pertanian di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Selasa (14/04/2026).
Di tengah hamparan hasil tani yang menjadi tumpuan hidup masyarakat, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan wujud kepedulian terhadap upaya peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal.
Salah satu lokasi yang disambangi adalah gudang UD. Mutiara milik Lamtiur Nababan, yang selama ini menjadi tempat penampungan hasil pertanian warga. Peran UD. Mutiara dinilai penting sebagai penghubung antara kerja keras petani di ladang dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Erikson menegaskan bahwa Yayasan Bisukma hadir untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian, sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang menempatkan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan sebagai prioritas utama.
Sebagai salah satu yayasan yang mengelola dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), Yayasan Bisukma turut mengambil bagian dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peran ini membuka ruang nyata bagi hasil pertanian lokal untuk terserap secara berkelanjutan, sekaligus memberi harapan baru bagi petani dan pelaku UMKM.
Erikson menyampaikan, sudah saatnya hasil pertanian tidak lagi berhenti pada bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
“Kita ingin setiap hasil jerih payah petani memiliki nilai yang lebih baik. Dengan pengolahan yang tepat, hasil pertanian bisa menjadi sumber kesejahteraan yang lebih layak bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui program Bisukma Taput, upaya yang dilakukan mencakup penguatan dari hulu ke hilir, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha, pengolahan hasil tani, pengemasan yang lebih menarik, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan program pemerintah, khususnya MBG, agar benar-benar menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program ini harus melibatkan petani dan pelaku UMKM sebagai bagian utama, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, pemilik UD. Mutiara, Lamtiur Nababan, menyampaikan harapannya agar perhatian terhadap pelaku usaha penampung hasil tani dapat terus ditingkatkan.
“Kami hanya ingin hasil kerja petani dihargai dengan layak. Jika ada dukungan yang berkelanjutan, kami yakin usaha ini bisa membantu petani mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.
Harapan serupa disampaikan oleh salah seorang petani bermarga Sigalingging. Dengan nada penuh harap, ia menggambarkan realita yang selama ini dihadapi petani.
“Kami bekerja dari pagi hingga sore di ladang, tetapi sering kali hasilnya belum sebanding. Kami berharap ke depan ada pengolahan dan penyerapan yang lebih baik, agar hasil tani kami benar-benar memberi arti bagi kehidupan keluarga,” tuturnya.
Kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar pertemuan, tetapi sebuah langkah kecil yang membawa harapan besar—bahwa dari tanah yang diolah dengan keringat, akan tumbuh kesejahteraan yang lebih adil bagi masyarakat Tapanuli Utara.
(DP/L.Tamp)

