Berita  

Sungai Krueng Bugeng Tercemar Limbah TPA Blang Beururu, Warga Desak Penanganan Serius

Bireuen – 1fakta.com

I Persoalan pencemaran lingkungan kembali mencuat di Sungai Krueng Bugeng, tercemar Limbah TPA Blang Beururu, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh. Warga Desak Pemkab Bireuen penanganan serius, Selasa 14 April 2026.

Warga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Blang Beururu mengeluhkan kondisi sungai Krueng Bugeng yang diduga telah tercemar limbah, hingga menimbulkan dampak kesehatan dan gangguan hingga pada sumber air bersih.

Imum Gampong Mulia, Tgk M.Daod, menyampaikan kepada Media 1Fakta.com (14/4) bahwa telah terjadi perubahan kondisi air sungai Krueng Bugeng sudah dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Air yang sebelumnya digunakan warga kini berubah menjadi keruh dan berbau tidak sedap.

“Limbah dari TPA terbawa arus sungai. Ada yang tertahan di aliran sungai, ada juga yang sampai ke pemukiman warga, bahkan sebagian terbawa hingga ke muara Sungai Peudada,” ujar Imum Gampong Mulia.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak mempermasalahkan keberadaan TPA, selama pengelolaannya dilakukan dengan benar dan tidak merugikan lingkungan sekitar, apa salahnya.

Tambahnya lagi, pengolahan limbah seharusnya dilakukan secara maksimal sebelum dibuang ke aliran air sungai Krueng Bugeng,, “ Kami tidak menolak TPA, tapi pengelolaannya harus jelas. Jangan sampai limbah dibuang begitu saja tanpa proses yang baik,” katanya.

Akibat tercemar limbah tersebut, merusak kualitas air, warga juga mulai merasakan dampak terhadap kesehatan pada sejumlah anak-anak, mereka mengalami iritasi kulit setelah mandi di sungai yang telah tercemar, “ Anak-anak yang mandi di sungai banyak yang mengeluh gatal-gatal, ” ujar Tgk M Daod.

Keluhan tersebut diperkuat oleh Muhammad, anggota Tuha Peut Gampong Blang Beururu. Ia meminta Pemda Bireuen, DPRK Bireuen, DPRA, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat, sesegera mungkin turun tangan agar persoalan ini tidak semakin meluas.

“Kami sangat berharap pemerintah khususnya Pemda Bireuen serius menangani persoalan limbah ini, jangan sampai masyarakat terus menjadi korban,” pintanya.

Dampak pencemaran juga dirasakan langsung oleh sejumlah warga kedua Gampong (desa) yakni Blang Beururu dan Mulia yang tinggal di sekitar bantaran sungai Krung Bugeng Kemungkiman Batee Kureng Peudada.

Rasyidin Usman kepada Media 1Fakta.com (14/4) mengaku air sumur yang digunakan keluarganya kini berbau tidak sedap, “Airnya tidak menyebabkan gatal, tapi baunya anyir dan busuk. Kalau mandi tanpa sabun, tidak mudah hilang baunya sangat terasa, ” ungkapnya.

Diwaktu yang sama, Keuchik Blang Beururu, Azwar, membenarkan bahwa sungai Krueng Bugeng di wilayahnya telah lama tercemar limbah. Namun, ia mengaku belum menerima laporan resmi terkait adanya gangguan kesehatan berupa gatal-gatal dari warga.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Bireuen melalui Kabid Pengelolaan Sampah, Abdullah, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa pencemaran dipicu oleh kerusakan tanggul penahan limbah akibat banjir, “ Tanggul penahan limbah TPA yang berada di dekat sungai Krueng Bugeng roboh setelah banjir, sehingga saat hujan sampah masuk ke aliran sungai,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan tersebut telah dilaporkan ke tingkat kabupaten hingga pusat. Bahkan, pihak kementerian telah melakukan peninjauan ke lokasi pada Desember 2025 lalu, “Kami masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat karena penanganannya membutuhkan anggaran besar,” katanya.

Hingga saat ini, warga menilai belum ada langkah nyata yang mampu mengatasi pencemaran tersebut.

Mereka mendesak adanya tindakan cepat limbah TPA, tidak hanya sebatas menunggu keputusan anggaran, guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di kawasan aliran air sungai Krueng Bugeng.(Abd-72)

Jangan copy berita ini!