Subulussalam – 1fakta.com
Aksi spontan masyarakat itu memicu kekecewaan yang terus menumpuk. Warga mengaku sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan bau menyengat dari aktivitas pabrik yang diduga mencemari udara lingkungan organisasi mereka.
Sejumlah ibu-ibu bahkan nekat berdiri di badan jalan untuk menghentikan truk pengangkut limbah dan CPO. Situasi sempat memanas karena kendaraan besar tetap berusaha melintas di tengah kepadatan warga. Masyarakat menyebut aksi itu sebagai suatu bentuk kekecewaan karena keluhan mereka selama ini dianggap tidak pernah benar-benar ditanggapi secara serius.
“Kami hidup tiap hari menghirup bau busuk. Pagi bau, malam bau. Anak-anak dan orang tua jadi kesal. Kami bukan anti perusahaan, tapi jangan dijadikan korban,” ungkap Ucok Bancin salah seorang warga dalam aksi tersebut. Ucok juga menambahkan Ir Netap ginting dan Heppi bancin. Memaksakan kehendaknya hingga warga nyaris tertabrak truk pengangkut CPO.
Di terlalu lokasi aksi, dua pihak manajemen perusahaan memaksanya yakni Ir. Netap Ginting dan Heppi Bancin terlihat mencoba menghalau warga situasi agar kendaraan pengangkut dapat keluar dari area pabrik. Namun warga tetap menyampaikan tuntutan mereka terkait pencemaran udara dan dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar.
Permukiman Diduga Terlalu Dekat dengan Pabrik. Warga menilai keberadaan pabrik yang terlalu dekat dengan pemukiman menjadi sumber utama permasalahan. Bau bau dari pengolahan brondolan dan CPO asam tinggi mencapai hampir setiap hari masuk ke rumah-rumah warga, terutama pada malam dan pagi hari.
Tak hanya polusi udara, masyarakat juga mengeluhkan kondisi jalan desa yang semakin rusak akibat tingginya aktivitas kendaraan bertonase besar milik perusahaan. Jalan yang sebelumnya digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari kini dipenuhi lubang dan debu akibat lalu lalang truk pengangkut.
Ucok Bancin salah seorang Warga meminta Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perhubungan segera turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap dampak lingkungan serta tonase kendaraan yang melintas di jalan desa.
“Kalau dibiarkan terus begini, masyarakat yang menderita. Jalan rusak, udara tercemar, sementara kami tidak merasakan manfaat yang jelas,” kata warga lainnya.
Janji CSR Dipertanyakan
Selain persoalan pencemaran, masyarakat Kampong Cepu juga menyoroti janji Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak perusahaan yang dinilai belum dirasakan secara maksimal oleh warga sekitar pabrik.
Beberapa tokoh masyarakat menyebut sejak awal keberadaan perusahaan, warga berharap ada perhatian nyata terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Namun hingga kini, berbagai harapan seperti perbaikan fasilitas umum, perhatian kesehatan warga terdampak, hingga pemberdayaan masyarakat disebut belum berjalan sesuai harapan.
“Kalau perusahaan mengambil keuntungan di daerah ini, masyarakat sekitar juga harus diperhatikan. Jangan hanya datang membawa dampak buruk,” ujar Ucok Bancin.
Warga Minta Humas Diganti
Dalam aksi tersebut, muncul pula permintaan warga agar pihak perusahaan melakukan evaluasi terhadap bagian humas PT Binsuli Salam Makmur. Warga berharap perusahaan menghadirkan sosok manusia yang lebih terbuka, komunikatif, dan mampu membangun hubungan baik dengan masyarakat kampung.
Menurut warga, komunikasi antara perusahaan dan masyarakat selama ini dinilai kurang berjalan baik sehingga banyak keluhan masyarakat antara warga.
Kobiro (B.Kadri.)

