Aku Membuat Bisnis di Kampung Halamanku Agar Bisa Selalu Mencicipi Masakan Ibuku

Opini oleh Satria Budi, SKM., MKM., CPHP — Dosen STIKes PNAD

Aceh Tengah – 1fakta.com

Banyak orang pergi merantau demi mengejar mimpi, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik. Namun, semakin jauh seseorang melangkah, sering kali ada satu hal sederhana yang paling dirindukan: rumah. Bukan hanya bangunannya, tetapi suasananya, aroma dapur di pagi hari, dan masakan ibu yang tidak pernah bisa tergantikan oleh restoran mana pun.

Saya percaya bahwa kesuksesan tidak selalu harus membawa kita jauh dari kampung halaman. Kadang, kesuksesan justru lahir ketika kita memilih pulang, membangun daerah sendiri, dan tumbuh bersama keluarga. Itulah salah satu alasan mengapa saya memilih membangun bisnis di kampung halaman saya sendiri.

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin dianggap kurang “menjanjikan” dibanding merantau ke kota besar. Namun bagi saya, ada kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang: bisa makan bersama ibu, mendengar suaranya setiap hari, dan menikmati masakan hangat yang penuh kasih sayang.

Masakan ibu bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada doa, cinta, perjuangan, dan kenangan masa kecil. Saat dunia terasa melelahkan, sepiring masakan ibu mampu menjadi penguat yang sederhana namun luar biasa. Karena itu, saya tidak ingin terlalu sibuk mengejar dunia sampai kehilangan momen bersama orang tua.

Membangun bisnis di kampung halaman juga menjadi bentuk pengabdian kecil saya kepada daerah tempat saya dibesarkan. Saya ingin membuka peluang, memberi manfaat, dan menunjukkan bahwa anak kampung juga bisa berkembang tanpa harus melupakan akar budaya dan keluarganya.

Sebagai seorang dosen, saya juga ingin memberikan pesan kepada generasi muda bahwa membangun daerah sendiri adalah langkah mulia. Tidak semua keberhasilan harus diukur dari seberapa jauh kita pergi. Kadang, keberhasilan terbesar adalah ketika kita mampu bertahan, berkembang, dan memberi dampak di tanah kelahiran sendiri.

Hari ini saya belajar bahwa tujuan hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita pergi, tetapi juga tentang kepada siapa kita kembali. Sebab pada akhirnya, rumah terbaik bukanlah tempat paling mewah, melainkan tempat di mana ibu masih menunggu kita pulang sambil menyiapkan makanan favorit kita.

Dan mungkin, alasan paling tulus saya membangun bisnis di kampung halaman adalah agar saya tidak kehilangan kesempatan sederhana itu: selalu mencicipi masakan ibu.(#)

Jangan copy berita ini!