Aceh Tamiang–1Fakta.com:
Parulian Sihotang, Mandor PT Bintang Dua Lima sekaligus Aplikator Produk Rumah Aman Bencana (RAG) Ferrocement Layer dari penemu PT Gubah Fifarian Indotama, mengakui telah melakukan kesalahan penyampaian terkait nilai anggaran pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di Dusun Kamboja, Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda.
“Saya salah sebut saat ditanya oleh anggota DPRK dan Kepala Desa terkait pembangunan Huntap. Padahal sesuai anggaran dari BNPB, nilai bantuan Huntap untuk satu unit adalah Rp60 juta, bukan Rp55 juta,” ungkap Sihotang seusai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi IV DPRK Aceh Tamiang, Senin (20/07/2026).
Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi IV Syarifuddin, didampingi Wakil Ketua Muhammad Yunus, S.Pd, Sekretaris Komisi Muhammad Irwan, SP, MM, serta anggota Sadikin. Turut hadir Direktur Operasional PT Gubah Fifarian Indotama Al-Afif, A. Riyanto dari PT Gubah Fifarian Indotama, perwakilan PT Bintang Dua Lima, Koordinator Huntap BPBD Aceh Tamiang Mursal, serta Datok Kampung Bukit Rata Amran.
Sihotang menjelaskan kesalahan penyebutan angka itu terjadi karena kurangnya fokus yang disebabkan kelelahan akibat padatnya target pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Saat itu saya tidak fokus karena kelelahan mengejar target kerja. Jadi salah tangkap saat ditanya berapa kira-kira modal yang sudah dikeluarkan, saya jawab sekitar 55 juta lebih,” terangnya.
Di sisi lain, ia mengakui nilai anggaran Rp60 juta per unit tersebut dinilai belum mencukupi jika dibandingkan dengan lonjakan harga material bangunan saat ini.
“Kalau bicara jujur, uang Rp60 juta pun sebenarnya belum cukup. Pasalnya harga semen, pasir, dan bahan lainnya melambung tinggi. Belum lagi ada biaya operasional pengangkutan material yang lokasinya jauh, serta upah tenaga kerja,” jelasnya.
Oleh karena itu, Sihotang berharap pemerintah dapat menambah alokasi anggaran agar pembangunan rumah layak huni bagi korban bencana dapat berjalan lebih maksimal dan hasilnya lebih baik.
“Kami berharap pemerintah bisa menganggarkan tambahan dana, agar yang semula Rp60 juta bisa ditambah sehingga pembangunan menjadi lebih sempurna,” harapnya.
Merespons isu dugaan penggunaan material berkualitas buruk yang sempat mencuat, Sihotang memastikan pihaknya telah melakukan perbaikan. Material yang tidak memenuhi standar dipastikan tidak lagi digunakan.
“Terima kasih atas perhatian dan masukan dari semua pihak, ini menjadi bahan evaluasi besar bagi kami. Kami juga sudah mendapat teguran dari penemu teknologi RAG-Ferrocement Layer yang tidak mentoleransi kelalaian tersebut. Bahkan kami sudah memutus kerja sama dengan pemasok batako yang sebelumnya kami libatkan,” pungkasnya.(EB).

