Siborongborong – 1fakta.com
Pembinaan warga binaan tidak berhenti pada menjalani masa pidana, tetapi juga menyangkut kesiapan untuk kembali ke masyarakat dengan keterampilan, pengetahuan, dan kemandirian. Prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Siborongborong melalui pengembangan sektor peternakan, pertanian, dan persiapan pendidikan kesetaraan.
Kepala Lapas Kelas IIB Siborongborong, Jimri Anton Soritua Nababan, A.Md.IP., S.H., M.H., memaparkan program tersebut dalam pertemuan silaturahmi bersama awak media, Rabu (21/10/2026).
Pertemuan itu sekaligus menjadi ruang komunikasi untuk mengenal lebih dekat pelaksanaan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
Di sektor peternakan, Lapas Siborongborong mengelola 600 ekor ayam petelur dan 400 ekor ayam pedaging. Sementara di bidang pertanian, warga binaan dilibatkan dalam pengelolaan lahan jagung seluas dua hektare serta penanaman berbagai jenis sayuran.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas produktif, tetapi juga sarana pembelajaran keterampilan praktis. Melalui keterlibatan langsung, warga binaan diharapkan memperoleh pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi bekal usaha dan sumber penghidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Selain kegiatan peternakan dan pertanian, kami juga berupaya membekali warga binaan dengan berbagai keterampilan agar nantinya dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat,” ujar Jimri.
Komitmen pembinaan juga diarahkan pada aspek pendidikan. Pihak Lapas tengah mempersiapkan program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan formal. Inisiatif ini diharapkan membuka akses pendidikan sekaligus memperluas kesempatan mereka untuk melanjutkan kehidupan secara lebih baik setelah bebas.
Bagi Jimri, pembinaan yang berorientasi pada masa depan merupakan bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan agar mampu menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif. Keterampilan kerja dan kesempatan pendidikan diharapkan menjadi modal untuk membangun kembali kepercayaan diri serta beradaptasi secara positif di tengah masyarakat.
Di sisi lain, pertemuan dengan awak media menjadi momentum untuk mempererat komunikasi antara Lapas dan insan pers.
Hubungan yang terbuka dan profesional dinilai penting dalam mendukung penyampaian informasi publik secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Melalui penguatan program pembinaan serta komunikasi dengan media, Lapas Kelas IIB Siborongborong diharapkan terus mendorong proses pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pidana, tetapi juga pada peningkatan kapasitas warga binaan agar lebih siap menata kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
(1F/Mukhtar.S)


