Bener Meriah – 1fakta.com
Dalam perspektif Islam, setiap harta memiliki dimensi tanggung jawab sosial. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar instrumen distribusi kekayaan, melainkan jalan untuk menghadirkan keadilan dan keberkahan dalam kehidupan umat. Di titik inilah, program pengadaan bibit kopi unggul oleh Baitul Mal Kabupaten Bener Meriah menemukan maknanya yang lebih dalam.
Kita sering kali berharap perubahan terjadi secara instan. Namun, alam mengajarkan hal yang berbeda. Sebutir benih tidak pernah tumbuh menjadi pohon dalam semalam. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, perawatan, dan keyakinan. Begitu pula dengan upaya mengangkat derajat ekonomi masyarakat mustahik.
Program bibit kopi unggul sejatinya bukan sekadar tentang menanam kopi. Ia adalah ikhtiar menanam harapan. Ketika bibit kopi ditanam, sesungguhnya yang sedang ditanam adalah optimisme bahwa suatu hari nanti, tangan yang dahulu menerima akan berubah menjadi tangan yang memberi.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, harta yang dinafkahkan di jalan Allah diibaratkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir terdapat seratus biji. Nilai keberkahan inilah yang menjadi landasan utama dalam pengelolaan dana infak secara produktif.
Secara hitungan duniawi, sebagai ilustrasi, hasil dari 100 batang kopi per keluarga mungkin belum langsung besar. Dengan asumsi harga kopi saat ini, tambahan pendapatan beberapa juta rupiah per tahun tampak sederhana. Namun, dalam logika pemberdayaan, yang kecil tetapi berkelanjutan jauh lebih bernilai daripada yang besar namun sesaat.
Di sinilah pentingnya kesabaran kolektif. Program ini sepatutnya tidak dilihat sebagai upaya menciptakan perubahan instan, melainkan membangun fondasi ekonomi yang kokoh. Ketika petani kurang mampu mulai memahami budidaya, memperluas lahan, dan meningkatkan kualitas hasil, maka perlahan tapi pasti kurva kesejahteraan akan bergerak naik.
Saya meyakini bahwa transformasi mustahik menjadi muzaki bukanlah utopia, melainkan proses yang sangat mungkin terjadi, selama ada kesinambungan antara bantuan, pendampingan, dan kemauan untuk berubah. Dalam jangka menengah, akan muncul kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mulai mandiri, dan dari sanalah embrio muzaki baru akan lahir.
Sebagai mahasiswa pascasarjana di bidang manajemen, saya melihat bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari output, tetapi juga dari outcome dan dampak jangka panjang. Program ini mungkin belum menghasilkan angka besar hari ini, tetapi ia sedang membangun sistem ekonomi berbasis keadilan sosial yang berpotensi besar di masa depan.
Lebih dari itu, program ini merupakan bagian dari dakwah. Dakwah yang tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata. Dakwah yang menghadirkan solusi, bukan sekadar retorika.
Pada akhirnya, kita semua berharap bahwa dari tanah Bener Meriah akan tumbuh bukan hanya kopi berkualitas, tetapi juga masyarakat yang kuat, mandiri, dan berdaya. Dari bibit-bibit kecil itu, kita menanam masa depan. Dari infak yang dititipkan, kita menjaga amanah. Dan dari proses panjang ini, kita berharap lahir keberkahan yang terus mengalir, dari dunia hingga akhirat.Semoga… Aamiin.(#)

