Makassar,1fakta.com – Menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE/2026, Vihara Girinaga menggelar kegiatan bakti sosial dengan menyasar anak-anak penderita kanker yang berada di bawah binaan Yayasan Rumah Harapan,Minggu (3/5/2026).
Kegiatan ini tidak hanya berupa pemberian bantuan, tetapi juga menghadirkan hiburan guna menumbuhkan semangat dan kebahagiaan bagi para pasien.
Ketua Vihara Girinaga, Roy Ruslim, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi nilai cinta kasih universal dalam ajaran Buddha yang menjadi inti perayaan Waisak.
Menurutnya, momentum ini dimaknai sebagai kesempatan untuk menebar kasih sayang kepada sesama, khususnya mereka yang tengah menghadapi kondisi sulit.
“Waisak adalah momen penuh cinta kasih. Apa yang kami lakukan hari ini adalah bentuk praktik nyata dari ajaran tersebut, bagaimana kita berbagi kebahagiaan kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan pertunjukan barongsai, sesi bernyanyi bersama, hingga pembagian hadiah untuk menghibur anak-anak. Suasana hangat dan penuh tawa tampak mewarnai acara, di mana para pasien dan pendamping terlihat larut dalam kebahagiaan.
“Anak-anak terlihat sangat senang. Mereka bisa tertawa, bernyanyi, dan melupakan sejenak kondisi yang mereka alami. Itu yang membuat kami juga ikut bahagia,” ujar Roy.
Sebanyak 18 anak penderita kanker menjadi penerima manfaat dalam kegiatan ini, didampingi oleh 23 orang pendamping. Bantuan yang diberikan meliputi mainan, boneka, tumbler, kursi roda, hingga kebutuhan pokok seperti beras.
Roy menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan dinilai dari besarnya, melainkan sebagai simbol kepedulian dan kasih sayang.
“Jangan dilihat dari nilainya, tetapi ini adalah bentuk cinta kasih kami kepada mereka,” katanya.
Senada dengan hal itu, Ketua DPD KCBI Sulawesi Selatan, Erdy Wijaya, menyebut kegiatan ini merupakan implementasi ajaran Buddha Dharma dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memanusiakan manusia.
“Kami hanya mengamalkan ajaran Buddha. Hari ini kita belajar bagaimana memanusiakan manusia, memberi semangat kepada mereka agar tetap kuat dan berharap bisa sembuh serta hidup bahagia,” ujarnya.
Erdy menambahkan, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada momentum Waisak semata, tetapi menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berkembang, tidak hanya sekali setahun, tetapi bisa dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan lebih banyak pihak. Semangat berbagi ini harus terus hidup,” tegasnya.
Ia juga menilai kolaborasi antara Vihara Girinaga, KCBI, dan dukungan berbagai pihak menjadi kunci sukses terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kolaborasi ini sangat penting. Ketika semua pihak bersatu, maka manfaat yang dirasakan masyarakat juga akan semakin besar,” tambahnya.

Dukungan juga datang dari Ketua DPD Walubi Sulsel, Henry Sumitomo. Ia menilai kegiatan yang digagas Vihara Girinaga bersama KCBI ini layak menjadi contoh gerakan kemanusiaan di masyarakat.
“Ini kegiatan luar biasa, baik dari sisi tenaga maupun materi. Saya harap bisa terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk melakukan hal serupa,” katanya.
Henry juga menekankan bahwa kegiatan ini memiliki nilai keunikan tersendiri di tingkat nasional. Ia berharap program seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi dapat menjadi gerakan berkelanjutan.
“Setahu saya, kegiatan seperti ini masih sangat jarang, bahkan bisa dikatakan satu-satunya di Indonesia yang secara khusus menyasar anak-anak penderita kanker dalam rangka Waisak. Karena itu, kami berharap ini terus berlanjut dan menjadi agenda rutin yang lebih besar ke depannya,” tegasnya.
Sementara itu, Pembimas Buddha Sulawesi Selatan, Sumarjo, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai bakti sosial ini mencerminkan nilai luhur ajaran Buddha yang menekankan kepedulian dan welas asih kepada sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
“Kegiatan ini sangat positif dan sejalan dengan semangat Waisak, yakni menebarkan cinta kasih dan kepedulian. Kehadiran umat Buddha di tengah masyarakat harus memberi manfaat nyata, seperti yang dilakukan hari ini,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus digalakkan dan melibatkan lebih banyak pihak agar dampaknya semakin luas.
“Ini bukan hanya soal bantuan materi, tetapi bagaimana membangun empati dan kepedulian sosial. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi,” tambahnya.
Perayaan Waisak sendiri jatuh pada 31 Mei 2026. Melalui kegiatan bakti sosial ini, umat Buddha diharapkan tidak hanya merayakan secara seremonial, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang nyata di tengah masyarakat. (niar)

