1Fakta.com
Gresik – Polemik penggusuran kios di kawasan Semambung, Driyorejo, kian berkembang setelah muncul fakta-fakta baru yang memperluas sudut pandang atas penyebab banjir di wilayah tersebut.
Di tengah aksi Paguyuban Pedagang Semambung yang masih berlangsung, Ali Candi dari Genpatra menegaskan bahwa kebijakan penertiban yang menyasar kios pedagang dinilai tidak menyentuh akar persoalan.
Menurutnya, para pedagang justru merupakan pihak yang terdampak banjir, bukan penyebabnya. Ia menyebut, luapan air berasal dari Kali Avour yang tidak mampu menampung debit air saat musim hujan.
“Pedagang ini juga korban. Air meluap dari kali, bukan karena kios. Jadi kalau dijadikan alasan penertiban, ini yang perlu diluruskan,” ujarnya.
Ali Candi juga menyoroti adanya dugaan hambatan aliran air akibat keberadaan infrastruktur milik sejumlah perusahaan di sepanjang sungai.
Pandangan tersebut selaras dengan laporan media online yang sebelumnya mengulas persoalan banjir di Gresik Selatan.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa jembatan-jembatan yang dibangun oleh perusahaan di atas sungai berpotensi menghambat aliran air.
“Deretan jembatan yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan besar di atas sungai disebut-sebut menjadi pemicu utama, karena membuat aliran sungai terhambat hingga meluber ke jalan raya bahkan ke permukiman warga sekitar.”
Keterangan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Camat Driyorejo, Muhammad Amri, yang dikutip dari salah satu media online. mengakui adanya persoalan pada konstruksi jembatan di atas sungai.
“Kami telah upayakan dengan menggandeng Pemdes untuk mengkoordinasikan perusahaan agar segera melakukan peninggian jembatan penghubung di atas sungai wilayah mereka masing-masing,” ujarnya, dalam pemberitaan tersebut
Amri juga menegaskan bahwa pihaknya telah meminta perusahaan membongkar atau menyesuaikan konstruksi jembatan yang dinilai terlalu rendah dan berpotensi menghambat aliran air saat debit meningkat.
Sejalan dengan itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi, yang juga di kutip dari media online turut mengakui bahwa faktor utama banjir di wilayah Driyorejo tidak berdiri tunggal.
“Faktor utama adalah jembatan-jembatan yang dibangun perusahaan di atas sungai terlalu rendah, dan koneksitas aliran sungai juga menjadi persoalan,” kata Hamdi. Diketerangan pemberitaan tersebut
Ia bahkan menyebut, upaya peninggian jalan yang telah dilakukan belum mampu mengatasi banjir secara signifikan.
Rangkaian pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan banjir di Driyorejo memiliki kompleksitas yang melibatkan banyak faktor, termasuk infrastruktur sungai dan aktivitas industri.
Di sisi lain, para pedagang yang terdampak penggusuran hingga kini mengaku belum memperoleh kompensasi maupun kepastian relokasi yang layak.
Situasi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai arah kebijakan penataan yang diambil—apakah telah berbasis pada akar persoalan, atau justru berdampak pada kelompok yang juga menjadi korban.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi lanjutan dari Pemerintah Kabupaten Gresik terkait keterkaitan antara penertiban kios dengan upaya penanganan banjir secara menyeluruh.
Sementara itu, aksi warga masih terus berlanjut, menandakan bahwa polemik penggusuran kios Semambung belum menemukan titik temu. YL

