Berita  

Komite : SDN15 Peudada Pinto Rimba, Rusak Parah Pasca Gempa dan Tsunami Aceh

Bireuen – 1fakta.com

Rusak parah kontruksi bangunan rumah sekolah SD Negeri 15 Peudada, di Desa Pinto Rimba, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh, menjadi prihatin warga setempat dan sekitar.

Ketua Komite SD Negeri 15 Peudada Saifuddin idris kepada Media 1Fakta.com Sabtu (23/05/2026) dan seraya menjelaskan,
rumah sekolah SD Negeri 15 Peudada ini dibangun sudah sejak sekiar tahun 1980 -an di wilayah Desa Pinto Rimba, dengan kerusakan yang sangat serius untuk dibangun baru oleh pemerintah,

Menyebut, sekolah SD Negeri 15 Peudada ini bakal lebih cepat maju kedepan, karena banyak orang luar incar masuk kesini, yang penduduknya sebagai petani atau pekebun yang selama ini kemajuannya dan peningkatan hasil tani sangat besar dan cepat sebagai penompang ekonomi disini.

“Data sementara yang dihimpun, sekolah yang mengalami kerusakan berat atau masuk dalam kata gori cukup parah se-Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen, yang tidak layak direhap akibat pasca Gempa dan Tsunami Aceh Tanggal 26 Des 2004 yang lalu, ” katanya.

Ia menjelaskan tingkat kerusakan bangunan sekolah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Kerusakan yang paling banyak ditemukan meliputi ruang kelas retak atau putus disudut – sudut bangunannya, atau dalam bahasa teknis putus sambungan pada balok pada setiap titik sudud bangunan.

Selain itu, kerusakan plafon dan dinding rusak parah, lantai sekolah juga retak dan putus hingga fasilitas penunjang tidak dapat seperti kursi, meja, lemari serta peralatan lainya, karena kondisi lantai agak.memiring atau tidak laysk digunakan.

“Inti kerusakan berat, yakni; sejumlah 6 RKB sekolah, 1 unit Perpustakaan juga mengalami kerusakan berat, Kondisi ini membuat sebagian besar pisik sekolah jelas-jelas tidak layak pungsi melaksanakan proses belajar mengajar secara normal,” tegas Saifuddin idris itu.

Saifuddin tambah menyebut, akibat kerusakan berat sekolah SD Negeri 15 Peudada pada pasca Gempa dan Tsunami Aceh Tanggal 26 Des 2004 yang lalu, hingga menyebabkan aktivitas belajar mengajar sangat was-was ketika adanya gempa takut terjadi reruntuhan,

“Keselamatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas sebagai perhatian serius di sekolah yang mengalami kerusakan cukup parah ini, ” tutup Komite sekolah.(Abd-72)

Jangan copy berita ini!